Skip to main content

Posts

DOA DAN DIAM

Momen doa bersama selalu membuat saya dag dig dug. Pertama, karena durasinya. Apakah durasi doa bersama akan panjang dan membosankan? Kedua, karena isinya. Apakah isinya sesuai dengan apa yang kita mau, atau minimal tak bertentangan dengan nurani kita? Yang ketiga, karena redaksinya. Apakah kita akan mengaminkan doa yang sekiranya tak kita mengerti isinya? Maka dari itu, saya sangat menghargai pembacaan doa yang hanya menyediakan waktu dan menyerahkan redaksinya kepada pribadi masing-masing, Maka dari itu, saya sangat menghargai pendoa yang meminta tak terlalu panjang hingga memakan waktu bermenit-menit. Maka dari itu, saya sangat menghargai pendoa bilingual, yang membacakan doa dalam bahasa arab sekaligus mengartikannya. Saya tak hendak menulis tentang apa saja persyaratan agar doa kita dikabulkan, karena sudah sering dibahas di majelis-majelis taklim. Saya juga tak hendak melarang doa bersama. Yang ingin saya utarakan, berdoalah bersama dengan memperhatikan sekitar Anda. Jan...

ATEIS BINGUNG

Dalam sebuah ceramahnya, Almarhum K.H. Zainuddin M.Z. pernah menganalogikan seorang ateis itu sebagai orang yg kebingungan. Dikisahkannya, ada seorang lelaki yg membutuhkan sepotong celana untuk dipakainya sendiri. Dia lihat semua merek, dia coba semua merek, lalu dia bingung dengan semua merek. "Semua enak dipakai, semua bilang paling trendy." "Jadi, mau pilih yg mana?" "Saya telanjang saja, saya nggak pilih yg mana-mana, saya bingung." Beberapa orang ateis memilih untuk tak beragama karena kebingungan. Bingung karena katanya semua agama menawarkan kebaikan, kedamaian dan hal-hal baik lainnya. Maka oleh sebab itu dia memilih untuk tidak bercelana. Maksud saya tidak beragama. "Tuhan, percayakah Engkau bahwa aku seorang ateis?" (Joko Pinurbo, 23.44 - 28 Jan. 2012) #haduhakudifollow #jokopinurbo

PARTAI KANCIL

Besok pagi pemilu dilangsungkan, orang sini menyebutnya coblosan. Malam ini Partai Kerbau sibuk melakukan serangan fajar. Tiap gang dimasuki, tiap rumah diketuk pintunya. Sembako beserta mie instan berpenyedap telah rapi terbungkus. Ditambah seamplop uang siap didistribusikan ke seluruh penjuru kampung. Untuk menghindari kecurigaan, para petugas partai dilarang memakai baju kebesarannya. Dan bingkisan dilarang bergambar logo partai atau apapun yang bisa mengundang panwaslu turun tangan. Pesan kepada calon pemilih cukup diverbalkan lewat masing-masing petugas saja, “Jangan lupa Bu, besok pagi pilih Partai Kerbau!” Saking banyaknya rumah yang harus dimasuki, dan saking mepetnya jam tayang serangan fajar, maka bingkisan disampaikan secara cepat. Tapi, saking cepatnya, beberapa kali petugas partai lupa memverbalkan dari mana bingkisan ini datangnya. Dan pesan yang paling penting, bagian pesan ‘harus memilih siapa’, juga ndilalah banyak lupa diucap. Saking terburu-burunya mereka di...

BIARLAH SETAN TETAP DISEBUT SETAN

“Masih percaya dengan dongeng surga dan neraka, Tong?”, begitu biasanya setan menulis status di facebooknya. Dulu, tahun tujuh puluhan, mereka dipanggil pelacur. Entah apa pertimbangannya, istilah pelacur kemudian diperhalus menjadi Wanita Tuna Susila (WTS). Istilah ini sepertinya mensejajarkan mereka (yang berprofesi tak terpuji ini) dengan tuna-tuna yang lain, seperti Tuna Wisma, Tuna Grahita, Tuna Daksa dan Tuna Wicara. Penyebutan tuna cenderung mempersepsikan penyandangnya pada ketidaksengajaan dan ketidakberdayaan. Pelacur yang bernama wanita tuna susila secara tidak langsung diasosiasikan dengan wanita-wanita yang tidak sengaja bekerja menjajakan seks. Dan mereka diposisikan tidak berdaya untuk keluar dari lubang kesesatan itu. Tahun berganti, istilah WTS diperhalus lagi menjadi Pekerja Seks Komersil (PSK). Kosakata ini mengajak pembacanya untuk memahami bahwa pelacur adalah sebuah profesi, sama dan setara dengan profesi lainnya. Tak perlu dipermasalahkan, tak perl...

POKOKE SEMBAYANG, POKOKE POSO

“Dari pada saya korupsi tapi ga sholat! Atau dia melacur tapi ga sholat! Pilih mana coba?” Islam rusak, dirusak sendiri oleh umatnya. Umatnya yang mana? Umatnya yang berpedoman pada “Pokoke aku sembayang, pokoke aku poso”. Mau nyuri, mau melacur, mau korupsi, ga masalah, yang penting sholat, yang penting puasa. Mereka pikir dosa maksiat bisa dikompensasikan dari pahala sholat dan puasanya. Beberapa orang malah menyedekahkan hasil lacurannya, menginfakkan hasil korupsinya, memakainya untuk membiayai diri mereka dan orang-orang terdekatnya untuk berhaji dan umroh. Mereka berpendapat sedekah mereka bisa “memutihkan”   dosa curiannya. Mereka kira pikir haji dan umroh semacam pencucian uang hasil korupsinya. Amar makruf dan nahi munkar bukanlah sebuah pilihan.   Amar makruf dan nahi munkar berjalan beriringan. “Dari pada korupsi tapi tidak sholat” adalah sebuah kesalahan logika yang dimunculkan untuk menghapus rasa bersalah yang disuarakan hati nurani mereka. “Dari pada mel...

SELEMBAR SURAT DARI SETAN

Salam, umat Muhammad! Aku, Setan! Ndak usah heran kalo aku menyapamu. Sudah biasa kita berkolaborasi merayakan kenikmatan dunia. Ndak usah kamu menyangkal, toh kamu juga menikmati kerjasama kita. Tenang saja, aku hanya pergi sebulan ini saja. Masih ada sebelas bulan waktu buat kita bersama-sama membuang-buang umur. Hanya sebulan ini aku ditahan-Nya. Sampai akhir bulan puasa nanti aku masih di dalam belenggu-Nya. Kita segera ketemu secepatnya, begitu Syawal tiba. Ndak usah kangen seberat itu. Aku cuman mau tanya, lancarkah puasamu? Mudahkah ibadahmu? Ringankah sedekahmu? Entengkah setiap langkahmu ke Masjid? Terjag kah mulut busukmu dari misuh-memisuh dan rasan-rasan? Kalo jawabnya iya, aku mahfum, memang begitu seharusnya. Karena sebulan ini, aku ndak nggelayuti kakimu buat ke Masjid. Aku ndak ngunci resleting dompetmu waktu ingin berderma. Aku juga ndak memencong-mencongkan pikiranmu ketika mulutmu ingin berkelakar. Seperti aku bilang tadi, aku cuti sebulan ini. Aku liburan se...